Gangguan Berbicara (latah)
Nama : Eka Yuliana
Nim :
A1D117022
A.
Latar Belakang Terjadinya Latah
Latah adalah perbuatan membeo atau menirukan
apa yang dilakukan orang lain. Tetapi, sebenarnya latah merupakan suatu sindrom
yang bersifat jorok dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Latah
merupakan sebuah perilaku yang kadang mengganggu dalam berkomunikasi. Perkataan
dan kadang disertai gerakan yang berulang-ulang membuat penderita latah
terlihat tersiksa dengan kondisinya.
Tujuan pada penelitian yaitu menghasilkan
deskripsi jenis reaksi latah yang diujarkan oleh penduduk di desa Tropodo
kecamatan Waru kabupaten Sidoarjo, dan menghasilkan deskripsi tentang faktor
penyebab terjadinya latah yang diujarkan oleh penduduk di desa Tropodo
kecamatan Waru kabupaten Sidoarjo. Jenis reaksi ekolalia sebanyak tujuh kali.
Jenis reaksi latah echopraxia sebanyak dua kali, dan automatic obedience
sebanyak tiga kali. Faktor penyebab terjadinya latah terbagi menjadi dua faktor
yaitu faktor lingkungan dan faktor mimpi. Peneliti juga menemukan faktor
terjadinya latah yang lain yaitu faktor mimpi yang dialami oleh SD1.
Pendapat Gimmlette,
Kenny, Winzeler, dan Geentz dilengkapi oleh Dardjowidjojo (2008: 154) yang
menekankan aspek perilaku seperti yang diungkapkan Chaer (2009). Beliau berkata
bahwa latah merupakan suatu tindak kebahasaan dimana seseorang ketika terkejut atau
dikejutkan mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa
yang dikatakan. Telah diungkapkan Geentz (1968) bahwa sebab akibat latah sulit
dimengrti, namun setidaknya Dardjowidjojo (2008:154) memberikan hipotesis
tentang ciri-ciri latah, yaitu : (a) Konon latah hanya terjadi di asia tenggara,
(b) Pelakunya hampir semuanya wanita, (c) Kata-kata yang keluar umumnya
berkaitan dengan seks atau alat kelamin pria, (d) Kalau kejutannya berupa kata,
maka si latah juga bisa hanya mengulang kata itu saja, terkecuali kalau dia
dikejutkan dengan gertakan atau dijatuhkannya sebuah ember didekatnya, maka
kata yang muncul umumnya adalah yang berkaitan dengan seks atau kata yang
merujuk alat kelamin pria.
Perilaku latah adalah suatu ekspresi
kaget (terkejut) sebagai akibat rangsang yang tiba-tiba dan mengejut yang
diikuti dengan meniru gerakan (echophraxia) dan kata-kata (echolalia) orang
lain secara spontan dan berulang-ulang yang berada di luar kendali. Ada
penderita yang mengalami latah setelah bermimpi tentang alat kelamin pria,
dipatuk ular, dan yang lainnya.
B.
Teori Terjadinya Latah
Teori yang digunakan oleh penelitian ini
adalah teori mengenai latah yang disampaikan oleh Mayor dan Simons. Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cakap dan
metode simak dengan teknik pancing, catat dan rekam, dan teknik wawancara yang
tidak berstruktur. Sedangkan metode yang digunakan dalam penganalisisan data
adalah metode intralingual dan ekstralingual dengan teknik HBS, HBB, dan HBSP.
Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah adanya empat jenis reaksi yang
ditimbulnya yaitu coprolalia, echolalia, echopraxia, dan automatic obedience.
Jenis reaksi coprolalia merupakan jenis latah
yang paling sering muncul sebanyak sebelas kali pada sebelas konteks. Di samping itu, gangguan latah dapat
muncul akibat upaya bawah sadar menekan keinginan-keinginan tertentu. Gangguan
latah juga bisa muncul apabila yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap
sesuatu tanpa ia sadari. Perilaku latah dapat membahayakan penderitanya. Selain
penderita dapat mengalami penyakit jantung akibat seringnya dikejutkan,
perilaku latah bisa juga mebahayakan orang lain dan juga lingkungan sehingga
dapat menghambat aktivitas penderitanya.
Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa perilaku latah dapat terjadi akibat seringnya subyek
berinteraksi dengan orang-orang yang juga menderita latah, sehingga terjadi
proses pengamatan. Di samping itu, penguat positif yang diberikan oleh
orang-orang sekitarnya menyebabkan subyek cenderung mempertahankan perilaku
latahnya. Pada awal latahnya, subyek merasakan ketidak nyamanan, sehingga
mengupayakan untuk sembuh, akan tetapi karena upayanya tidak membuahkan hasil
mereka akhirnya bisa menerima keadaan dirinya yang latah.
C.
Faktor Penyebab Latah
Menurut Gerungan (2004: 62) faktor penyebab
terjadinya latah terbagi menjadi dua faktor, yaitu faktor lingkungan dan faktor
mimpi. Faktor lingkungan itu sendiri terbagi lagi atas empat faktor, yakni
faktor imitasi, faktor sugesti, faktor identifikasi, dan faktor simpati. Pada
penelitian ini informan yang mengidap latah yang disebabkan karena faktor
lingkungan adalah SD2. Jika dikaitkan dengan teori yang disampaikan oleh
Gerungan (2004: 62) faktor penyebab latah yang dialami oleh SD2 adalah adanya
dorongan dari diri sendiri yang membuat SD2 secara tidak sadar ingin menirukan
cara bertingkah laku dan perkataan orang lain, baik itu dalam hal positif
maupun negative.
Maksud dari ‘menirukan’ dalam hal ini adalah
tertular secara tidak sadar. Faktor seperti yang diderita oleh SD2 tersebut
disebut dengan faktor penyebab latah simpati. Faktor tersebut terjadi pada SD2
diakibatkan oleh adanya orang-orang lain di lingkungan sekitar SD2 yang juga
mengidap latah. Hal tersebut terjadi karena menurut Winzeler (Dalam Pamungkas,
2017: 10) latah bukanlah pembawaan sejak lahir, melainkan bersifat temporal,
bergantung pada sikap dan karakter masing-masing individu, lingkungan yang
melingkupi, dan tren perilaku ini sebagai salah satu upaya untuk ‘mendapat
perhatian’ sehingga perilaku ini pun dikatakan dapat ‘menular’ pada rekan yang
lain. Proses mimikri atau peniruan terhadap perilaku latah ini tidak lain
adalah karena perilaku ini muncul secara spontan, terus terjadi secara
berulang, baik dalam bentuk reaksi verbal maupun nonverbal.
Faktor terjadinya latah selanjutnya adalah
faktor mimpi. Faktor mimpi dalam penelitian kali ini dialami oleh SD3.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti, SD3 menyatakan bahwa ia bermimpi
bermimpi melihat alat kelamin pria dalam jumlah yang cukup banyak dalam sebuah
wadah. Kemudian setelah bangun dari tidurnya, maka latah dengan reaksi
menyebutkan nama alat kelamin pria tersebut mulai muncul. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan oleh Pamungkas (2017) bahwa apabila terjadi
peristiwa bermimpi alat kelamin, maka bentuk lingual yang muncul adalah merujuk
pada alat kelamin. Stimulus jenis apapun yang terjadi adalah reaksi atau respon
yang merujuk pada alat kelamin.
Proses munculnya mimpi dan bentuk lingual alat
kelamin tersebut bukanlah proses yang sederhana. Pamungkas, dalam penelitiannya
(2017: 3-4) mengatakan bahwa peristiwa psikologis melatarbelakangi munculnya
bentuk lingual menjadi energy lebih yang mendorong terbentuknya pola perilaku
latah. Hal tersebut membenarkan teori Freud dan Jung yang menyebutkan bahwa
peristiwa psikologis yang menahun dan ditahan karena tidak dapat terealisasi
dalam kenyataan maka hal tersebut tidak akan pernah hilang. Pemenuhan yang
tidak kunjung datang akhirnya hal tersebut dipindahkan penyimpanannya dalam
otak taksadar manusia. Proses penahanan dalam otak taksadar manusia pun masih
berharap mencapai pemenuhan, namun bila tidak, hal tersebut akan diubah
bentuknya dalam mimpi. Penggambaran mimpi seperti disebutkan di atas dan
kemudian muncul reaksi perilaku latah dengan sederet bentuk lingual yang
muncul, yang merujuk pada alat kelamin, disebutkan oleh Jung (dalam Pamungkas,
2017: 4) hal itulah sebenarnya penyebabnya. Artinya, bentuk lingual yang secara
spontan muncul tersebut merupakan gambarang dari keinginan yang tidak dapat
terealisasikan dalam kenyataan.
D.
Solusi Untuk Latah
Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, kita harus bisa
menemukan ketenangan hidup. Misalnya, tidak berdiam di lingkungan yang membuat
stress. Lingkungannya pun memang harus berempati. Ada penderita latah yang
sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya, penderita
dianjurkan melakukan latihan relaksasi, meditasi, dan konsentrasi secara rutin.
Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan, sering-seringlah
melakukan aktivitas menyenangkan yang tidak membuat stres.
Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan,
antara lain memakan jangkrik, melakukan shock therapy setiap hari Jum’at,
bersikap judes supaya tidak diganggu, menggigit lidah agar tidak mudah latah,
mengikuti terapi FGD, disiram dengan air bekas cucian perabot rumah tangga,
meminum air yang sudah dijampi-jampi ataupun di do’a-do’a. Adapun upaya-upaya
yang dilakukan tidak membuahkan hasil dalam mengatasi perilaku latah,
disebabkan karena selain ada kecenderungan mempertahankan perilaku latahnya
untuk mendapat perhatian, lingkungan juga kurang mendukung kesembuhan subyek,
di samping itu juga disebabkan ketidak tahuan subyek mengenai cara penanganan
yang benar yaitu dengan berkonsultasi kepada dokter atau ahli jiwa.
E.
Daftar Pustaka
Fatmawati, putri. 2018. Gangguan Berbahasa Jenis Psikogenik Latah: Studi Kasus Di Desa Tropodo
Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Sidoarjo: Putri diakses dari https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-sapala/article/view/26975
Kusumawati, 2009. Gangguan Latah (Studi Tentang Faktor
Penyebab dan Kondisi Psikologis). Diakses dari : https://eprints.umm.ac.id/8205/1/GANGGUAN_LATAH.pdf
Komentar
Posting Komentar